Pandan Foundation, merupakan organisasi komunitas masyarakat sipil yang bergerak untuk menjaga dan melestarikan ekosistem Gunung Pandan; mendorong dan mempromosikan tatanan sosial yang humanis, demokratis, inklusif, berkeadilan dan berwawasan ekologis yang berbasis nilai-nilai kearifan lokal.
Gunung Pandan merupakan puncak tertinggi dari rentetan Pegunungan Kendeng yang membentang sepanjang 250 km, melintasi beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur: Grobogan, Blora, Bojonegoro, Madiun dan Nganjuk. Puncak Gunung Pandan berada di wilayah Kabupaten Bojonegoro, dan berpotensi menjadi daya tarik daerah. Selain itu, kawasan ekosistem Gunung Pandan merupakan kawasan penyangga (kawasan lindung) wilayah tengah dan utara Bojonegoro; wilayah selatan Madiun dan Nganjuk. Selain sebagai puncak dari rentetan Pegunungan, Gunung Pandan merupakan Gunung Purba, dan menjadi satu-satunya gunung berapi yang ada di sekujur Pegunungan Kendeng. Sebagai Gunung Purba, Pandan memiliki kekayaan ekosistem yang beragam, teruma keanekaragaman biodiversitas. Gunung Pandan memiliki banyak daya tarik, yang selama ini belum dikembangkan, diantaranya meliputi daya tarik sejarah, sosial-budaya, serta keunikan biodiversitas (ekologi) sebagai pelengkap ekosistemnya. Daya tarik sejarah: Di kawasan Gunung Pandan banyak ditemukan situs, prasasti dan benda peninggalan abad 10 M, era Pu Sindok Medang Kuno (929- 947 M). Lokasi Gunung Pandan juga disebut di sejumlah sumber literatur abad 19 M sebagai pusat kebudayaan kuno. Daya tarik sosial-budaya: Di sekitar kawasan Gunung Pandan masih banyak terdapat tradisi-tradisi masyarakat yang menggambarkan keberpihakan terhadap alam. Daya tarik lingkungan hidup (ekologi)i: Di sekitar kawasan Gunung Pandan terdapat belasan sumber mata air. Sebab, Gunung Pandan merupakan kawasan hulu dari sejumlah anak sungai yang mengalir ke tiga kabupaten: Bojonegoro, Madiun dan Nganjuk. Banyaknya bukit dan anak-anak gunung Pandan yang menyebar di sekitar lereng Puncak Pandan, melengkapi keberadaan sumber mata air yang berada di sana. hal ini tentu memiliki potensi besar dalam menambah estetika Ekosistem Pandan.
Selama ini, potensi kawasan Gunung Pandan belum —bahkan sama sekali tidak tidak pernah — mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan di daerah/nasional, khususnya dalam upaya menjaga dan melestarikan kawasan Gunung Pandan. Seperti menjaga ekosistem hutan, sumber mata air, dan biodiversitas yang ada di kawasan ekosistem Gunung Pandan.
Minimnya perhatian para pemangku kepentingan itu, secara nyata menyebabkan ekosistem kawasan Gunung Pandan mengalami degradasi secara ekstrem. Mulai dari deforestasi hingga vegetasi hutan yang semakin minim, serta sumber mata air yang semakin menurun debitnya, bahkan banyak yang mulai mengering.
Belum ada satu pun pihak yang, secara serius, memproklamirkan diri untuk menjaga dan mengaktualisasikan potensi sosial-budaya (sejarah) dan keragaman biodiversitas (ekologi) yang ada di sekitar kawasan ekosistem Gunung Pandan.
Masyarakat di sekitar Gunung Pandan semakin ahistoris karena kian jauh dari tradisi sosial budaya (sejarah) asli mereka. sebab, belum ada pihak yang mau turun untuk memberi edukasi masyarakat sekitar. Sehingga, masyarakat sekitar mulai mengalami krisis identitas dan degradasi akan nilai-nilai kearifan lokal.
Menggali dan mengembangkan potensi di kawasan ekosistem Gunung Pandan, meliputi warisan geologi dan bentang alam, sejarah peradaban, keanekaragaman budaya (cultural diversity) dan keanekaragaman hayati (biodiversity).
Mempromosikan nilai-nilai kearifan lokal (lokal wisdom), terutama yang tumbuh dan berkembang sebagai tradisi asli (genuine entity) di dalam masyarakat sekitar kawasan ekosistem Gunung Pandan.
Mengembangkan Sustainable livelihood (penghidupan berkelanjutan) masyarakat sekitar kawasan ekosistem Gunung Pandan, untuk menjaga harmoni hubungan manusia dan alam.
Mengajak masyarakat sekitar untuk membangun nilai (value) terhadap keberadaan Gunung Pandan sehingga dapat memberi manfaat yang berkelanjutan terhadap segenap kehidupan yang ada di sekitar.
Menjadikan Pandan sebagai simbol gerakan (trendsetter) untuk pelestarian lingkungan dan mengkampanyekan penghidupan yang harmoni, antara manusia dan alam.





Melakukan berbagai riset untuk menggali dan mengembangkan potensi kawasan ekosistem Gunung Pandan, melalui beberapa metode riset aksi, seperti Participatory Action Research (PAR), Participatory Rural Appraisal (PRA), Sustainable Livelihood Approach (SLA) dan lainnya — serta beberapa bentuk riset sosial lainnya, seperti riset etnografi dan lainnya.
Hasil kajian dan riset yang dikembangkan akan menjadi advokasi kepada para pihak, pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan, agar temuan-hasil kajian/riset dapat dijadikan bahan perumusan kebijakan, program dan kegiatan yang dibutuhkan untuk penguatan masyarakat serta pengembangan potensi kawasan ekosistem Gunung Pandan.
Dalam menjalankan program-kegiatan, Pandan Foundation memposisikan diri sebagai fasilitator. Artinya Pandan Foundation tidak memposisikan warga dan komunitas sebagai objek, tetapi menempatkan mereka sebagai subjek atau pelaku perubahan.
Membangun penghidupan yang harmoni antara alam dan manusia (Living harmony), termasuk di sini upaya menjaga dan melestarikan kawasan ekosistem Gunung Pandan tidak bisa dilakukan sendiri oleh Pandan Foundation. Sebab itu ini harus menjadi gerakan bersama. Dan ini bisa terwujud dengan membangun dan memperkuat kolaborasi multipihak.
Berbagai temuan, meliputi hasil kajian/riset serta praktik-praktik baik (good practises) perlu dipublikasikan agar menjadi pembelajaran (Lesson learn) kepada masyarakat luas, termasuk sebagai bentuk untuk menarik perhatian para pemangku kepentingan, terutama bagi para pemerhati sosial dan lingkungan.
Copyright © 2025 Yayasan Gunung Pandan Indonesia. All Rights Reserved